Laman

Jumat, 28 Oktober 2016

ROXX "Perjalanan Panjang Legenda Metal Indonesia"




Roxx adalah grup musik beraliran Heavy Metal yang didirikan pada 1 April 1987 di Jakarta. Roxx merupakan salah satu pelopor pergerakan musik metal di Indonesia.

Roxx dikenal dengan album debut mereka yakni Roxx yang dirilis pada tahun 1992, dan memiliki hits seperti: "Rock bergema", "Penguasa", dan "5 cm". Album yang disebut juga dengan "black album" merupakan album yang diisi formasi klasik Roxx yakni Trison, Jaya, Arry, Iwan, dan Tony.

Arry Yanuar adalah drummer sekaligus pendiri Roxx yang meninggal dunia pada 1999 silam. Pada jamannya Arry merupakan drummer tangguh yang sangat disegani bahkan digandrungi musisi-musisi rock lokal saat itu. Permainan drumnya selalu disejajarkan dengan Lars Ulrich, drummer Metallica, sementara aksi panggung dan tingkah lakunya bagi banyak orang mengingatkan dengan gaya Tommy Lee, drummer Motley Crue. Grup ini memulai debutnya sebagai band glam rock '80-an yang merupakan pecahan dua band lokal terkemuka saat itu, Skull dan Navy. Skull personelnya antara lain Arry (drums), Iwan Achtandi (gitar) dan Trison Manurung (vokal). Sementara Navy yang memainkan nomor-nomor AC/DC digawangi oleh Wijaya (gitar), Tony Agusbekti (bass), Jalu (drummer) dan Parlin (vokal). Nama yang disebut terakhir adalah kakak kandung Trison yang sempat tiga bulan menjadi vokalis Slank sebelum Kaka bergabung ke dalam barisan Slank hingga kini. Uniknya nama Navy mereka pilih karena ayah para personel band ini semuanya berprofesi sebagai perwira menengah dan tinggi TNI Angkatan Laut.

Selanjutnya Arry Yanuar mundur dari Skull dan hijrah ke Australia untuk melanjutkan studi selama dua tahun lamanya. Arry dikabarkan sempat membentuk band metal pula selama tinggal di sana. Sepulangnya dari Australia ia tidak ingin kembali ke Skull dan malah mengajak Jaya membentuk sebuah band baru. Arry menugaskan Jaya untuk mencari kandidat anggota band barunya dan Jaya sendiri justru menugaskan Trison mencari vokalis bagi proyek baru ini. Tetapi saat mengaudisi vokalis justru Trison-lah yang melamar langsung menjadi vokalis karena dia ingin sekali bergabung dengan ROXX.

Akhirnya pada awal 1986 terbentuklah Roxx formasi pertama yang terdiri dari Arry (drums), Jaya (gitar), Iwan (gitar), Trison (vokal) dan Tonny (bass). Usia para personel Roxx saat itu rata-rata 20-21 tahun. Nama Roxx sendiri dipilih langsung oleh Arry. Para personel lain mengaku tak tahu darimana ia mendapatkan inspirasi atas nama itu. Sepanjang tahun 1986 Roxx total mendekam setahun penuh hanya untuk berlatih di studio. Saat itu mereka masih sibuk membawakan lagu-lagu dari The Who, Van Halen, Motley Crue hingga Iron Maiden sebagai bekal manggung, mereka benar-benar serius. Kerja mereka hanya latihan dan latihan. Dua kali seminggu, jam duabelas siang sampai maghrib. Bayangkan, 104 kali latihan dalam setahun, tanpa manggung! Panggung pertama Roxx terjadi tanggal 1 April 1987 di Pasar Seni Ancol. Saat itu mereka tampil sebagai pembuka Barata Band yang terkenal sebagai band tribute The Beatles nomor wahid di negeri ini. Beban berat di panggung pertama menghasilkan teriakan dan cemoohan dari para penonton yang meminta mereka turun panggung. Untungnya mereka dapat bertahan hingga lagu terakhir di panggung historis tersebut. Aktivitas membentuk band di kalangan anak-anak muda adalah kegiatan yang termasuk mewah dan mahal di era '80an, bahkan studio latihan band di Jakarta pun masih terbilang jarang. Namun hebatnya Roxx saat itu sudah memiliki studio latihan pribadi di rumah Arry yang terletak di bilangan Tebet.

Suatu ketika pada 1987 ada sebuah peristiwa yang sangat bersejarah dalam karir bermusik Roxx untuk selamanya. Saat itu pertama kalinya Arry memperdengarkan para personel Roxx album Master of Puppets milik Metallica yang dibawanya dari Australia. Saat itu album-album Metallica bahkan belum ada yang dirilis secara resmi di Indonesia. Awalnya tak satu pun diantara personel Roxx yang suka dengan musik thrash metal ala Metallica. "Di denger sambil mabok aja nggak enak (Tertawa)," kenang Jaya. Namun karena Arry bersikeras akhirnya Roxx tunduk dan mulai membawakan nomor-nomor milik band asal Los Angeles, California tersebut. "Master of Puppets" adalah lagu pertama dari Metallica yang mereka bawakan di atas panggung Bulungan, Blok M pada 1987. Mungkin saja dalam sejarah rock tanah air untuk pertama kalinya pula ada band Indonesia meng-cover Metallica. Bassis Tony menjelaskan setelah mereka menikmtai mengusung nomor-nomor ngebut dari Metallica, arah musik Roxx kemudian berkembang semakin ekstrem. "Habis itu penginnya bawain lagu-lagu kenceng semua," ujarnya. Kisah berikutnya mereka tinggalkan Van Halen, Motley Crue, Iron Maiden dan juga fashion 80's glam rock yang selama beberapa tahun sempat menjadi identitas mereka di atas panggung. Roxx telah menemukan arah musik bahkan ciri khas mereka yang baru: Thrash metal dan kostum hitam-hitam! Berikutnya mereka mulai meng-cover nomor-nomor dari Anthrax seperti "Indian," "Among The Living" dan juga Death Angel dan Testament.

Pada 1989 Roxx khusus diundang Log Zhelebour ke Surabaya untuk tampil mewakili Jakarta menjadi peserta kompetisi band yang digelarnya: Festival Rock Indonesia Ke-V. Di kompetisi itu Roxx berhasil menjadi Juara Kedua sedangkan Juara Pertama adalah Power Metal asal Surabaya. Gosip berhembus bahwa menurut pilihan para juri sebenarnya Roxx yang seharusnya terpilih sebagai juara pertama namun kabarnya Log tidak setuju dan menolak keputusan tersebut. Lalu pada 1990 lagu "Rock Bergema" dirilis sebagai album kompilasi pertama keluaran Logiss Records lalu pada Desember 1990 Roxx kembali ke Studio Triple M bersama penata suara Harry Widodo untuk menggarap album penuh pertama mereka, Roxx.

Proses rekaman album ini menghabiskan 70 shift dan berjalan hingga 18 bulan lamanya namun Album ini sempat terkatung-katung pennggarapannya karena "Insiden Asbak Tengkorak" yang menimpa Trison dan Tony di Bogor mereka berdua sempat di masuk LP dalam keadaan gondrong. Namun pemberitaan di media atas Insiden Asbak Tengkorak ternyata berdampak negatif bagi album debut Roxx. Harpa Records malah membatalkan kontrak rekaman Roxx sekaligus memberhentikan proses rekaman yang saat itu tengah berjalan setelah itu tiba-tiba Roxx bertemu Dannil Setiawan, produser yang kemudian menebus seluruh biaya rekaman yang telah dihabiskan Roxx dari Harpa Records. Setelah Trison dan Tony "dibebaskan" dari penjara proses rekaman pun dilanjutkan hingga akhirnya album tersebut beredar dibawah label Blackboard Indonesia pada Agustus 1992.

Dan alhasil Roxx merilis album pertamanya dengan judul album yang sama yaitu ROXX, yang melahirkan lagu-lagu hits seperti “Gontai", "Penguasa", "5cm", "Gelap", "Price" dan "Rock Bergema”. Diedarkan oleh PT. Suara Sentral Sejati dan didistribusikan oleh Blackboard Indonesia. Kesuksesan album tersebut di blantika musik Tanah Air akhirnya mencatat ROXX sebagai grup musik pertama di Indonesia yang merilis albumnya di pasar Internasional. Hal ini ditandai dengan diadopsinya album perdana ROXX tersebut pada 1992 oleh Polygram International. 

Terdapat sebuah dokumenter yang merupakan bonus majalah Hai, yang berjudul “Rock Bergema: Story Behind the Rock Anthem”. Video dokumenter pendek yang hanya berdurasi sekitar dua puluh menitan itu bercerita tentang sejarah lagu "Rock Bergema". Banyak musisi yang menganggap bahwa lagu tersebut adalah lagu legenda. Setelah lagu itu naik pamor, banyak band-band rock/metal ekstrim/underground bermunculan di Indonesia, itu terjadi pada awal 1990-an hingga sekarang.

Jaya menuturkan dalam video tersebut, bahwa lagu "Rock Bergema" sebenarnya adalah lagu yang paling cemen dan paling tidak disukai diantara personel ROXX. Akan tetapi, justru lagu tersebutlah yang banyak disukai orang-orang di luar ROXX. Permainan gitar lagu "Rock Bergema" agak sulit jika dimainkan bersama-sama, karena akor-akornya yang cepat dan unik, tetapi jika dimainkan secara individu sebenarnya adalah lagu yang mudah. Nyawa lagu ini sebenarnya terletak di bagian gebukan drum sang drummer, isian drumnya terasa begitu kental, jelas, dan tidak sederhana.

Album kedua ROXX berjudul NOL dirilis pada 1995, diedarkan oleh WINS Record dan didistribusikan oleh Atlantic Record Indonesia, yang melahirkan hits single “Air Mata Hewan, "Putri Matahari" dan "Muak”. Ada perubahan formasi pada album ini, yaitu digantinya posisi Tony pada bass, yang digantikan oleh Didik, dikarenakan Tony harus melanjutkan pendidikannya ke Jerman.


Album ketiga ROXX, Bergema Lagi dirilis pada 2004, diedarkan oleh SGK Record dan didistribusikan oleh PT. Ritme Nuansa Baru. Mencetak single hits “Dari Dulu", "Babi Ngepet" dan "Yang Tersisih”. Di album ini Tony kembali ke posisi semula sebagai bassis, sedangkan posisi Iwan pada gitar digantikan oleh pemain tambahan DD Crow.

Di album keempat ROXX yang berjudul RETAKE, yang bekerjasama ditribusi dengan Majalah Rolling Stone Indonesia, telah hadir sebagai penanda eksistensi ROXX di belantara musik Tanah Air. Mini album yang berisikan beberapa hit single mereka dari keseluruhan kronologis perjalanan karir ROXX sejak tahun 1987 sampai dengan saat ini, menghadirkan lagu-lagu kompilasi terbaik yang pernah dimiliki ROXX,yaitu: Gontai, Rock Bergema, Babi Ngepet, Air Mata Hewan, Penguasa & 5 Cm.

Pada Oktober 2013 ROXX mengeluarkan album terbarunya, “Jauh dari Tuhan” adalah judul album yang dipilih untuk menamai album ini, sekaligus untuk menandai tema dan single album. ROXX menganggap bahwa tema-tema yang bernuansa politik sudah terlalu sering mereka ciptakan dan mereka merasa jengah membahas hal yang sampai detik ini tidak berkesudahan di benak mereka. Cover album yang dibalut dengan warna silver mengingatkan bahwa ROXX memasuki usia 25 tahun.

Mendengar album ini bagaikan mendengar album metal klasik yang tercipta di awal 1990an, persis ketika ROXX meluncurkan album pertamanya. Album ini dianggap adalah benang merah yang melekat di musik-musik mereka. Jika dibandingkan dengan band Indonesia yang ada saat ini, secara genre mungkin sealiran dengan Edane. Ada sepuluh lagu di album ini, dimana empat diantaranya direkam secara live dan ada dua lagu lama. Secara kualitas, suara yang dihasilkan di album ini sudah sangat modern dan enak didengar tanpa meninggalkan ciri khas mereka. Jauh Dari Tuhan adalah album kelima ROXX yang dirilis secara penuh dengan label sendiri (cRott records).

Jauh Dari Tuhan adalah upaya yang tepat bagi Roxx bila ingin menyegarkan memori para pecinta metal generasi baru tentang bagaimana speed metal yang baik, benar, serta berkelas, dimainkan. "Aku Suka Sepak Bola" memperdengarkan selera humor Anthrax di lagu "Milk" serta modern metal a la System of a Down dengan lirik menceritakan hobi sepakbola yang tidak produktif bagi hidup. "Ambil Nyawaku" merupakan nomor metal yang mampu melekat erat di telinga pendengar. Liriknya bercerita tentang rasa rindu akan hal yang dicintai dan bikin jantung "dag dig dug". "Jauh dari Tuhan" merupakan nomor balada yang dimulai dengan bagian akustik, dan ditutup dengan deru metal beberapa riff yang meminjam "Hangar18" dari Megadeth; orgasmik! Hal yang sedikit mengganggu adalah bagaimana nomor-nomor speed metal yang tertulis dengan apik ini seperti kurang gizi pada departemen lirik. Terlebih bila ingat bahwa lirik menarik dan gagah bukanlah hal yang baru bagi Roxx, karena di awal "90-an musik rock mereka bergema tentang jumlah sentimeter panjang tusukan di badan seorang preman yang meresahkan, atau kritik pedas terhadap sang penguasa. Salah satu lagu paling menarik adalah "Toa Maut"; dengan nada sedih, Roxx bernyanyi tentang betapa ironisnya ketika pengeras suara yang seharusnya menyiarkan perdamaian malah menyerukan benci. Ini disinyalir terinspirasi dari suasana rumah Jaya, gitaris Roxx, yang bertetangga dengan markas sebuah ormas agama. Tema kekerasan atas nama agama ini memang adalah potret keadaan yang merupakan tema seksi bagi band metal Indonesia. Persis seperti ketika mayoritas band thrash "80-an berbicara tentang nuklir.

Lagu lain di album ini secara berurutan yaitu “Menang”, “Beraninya di Belakang”, “Cekson” (Live, lagu pendek untuk check sound), “Dari dulu” (Live), “Muak” (Live), dan “Jauh dari Tuhan” (Live). Lagu “Dari Dulu” dan “Muak” adalah lagu lama ROXX yang dinyanyikan dan direkam secara live ketika manggung di Surabaya beberapa waktu yang lalu. Formasi ROXX ketika menggarap album JDT ini adalah Jaya (gitar), Trison (vokal), Tony Monot (bass), DD Crow (gitar, additional), Iwan (gitar), dan Raidensoe (drum).

Penggiat musik Seno M. Hardjo mengaku salut dengan persahabatan yang dibina Para personil Roxx Band.

Pasalnya, saat Tonny Monot, bassis grup rock tersebut mengalami luka parah dan mengalami amnesia (kehilangan daya ingat berkepanjangan) akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya, personil Roxx Band lainya tak lantas mencari pengganti Tonny. 

Tapi mereka tetap mempertahankan Tonny dan menerima kekurangan yang sekarang dialami Tonny pasca kecelakaan.

"Persahabatan ROXX patut diacungi jempol dan mungkin ditiru oleh band-band baru di Tanah Air. Karena sahabat itu bakal ada saat senang atau susah sekali pun, terutama saat susah," kata Seno saat memandu acara persiapan konser Roxx Band bertajuk 'Rock Flight After Amnesia' di M Point, Blok M, Jakarta Selatan pada Sabtu 8 Juni 2013.

Konser tersebut digelar selain sebagai wujud rasa syukur membaiknya kesehatan Tonny, sekaligus untuk mensuport album kelima Roxx berjudul 'Jauh Dari Tuhan'.

Awal 2016 kancah musik metal tanah air dihebohkan dengan berita mundurnya Wijaya alias Jaya, gitaris band metal legendaris asal Jakarta, Roxx. Ia mengumumkan pengunduran dirinya dari band hanya beberapa menit sebelum mengakhiri penampilannya bersama Roxx di ajang Jakcloth 2015 yang digelar pada Sabtu malam 2 Januari 2016 di Senayan, Jakarta. Padahal hanya selang sehari sebelumnya, Jaya juga baru saja merayakan hari kelahirannya yang ke-50 tahun. 

Seperti biasa, dalam setiap konser Roxx, Jaya yang dikenal cukup "vokal" memang sering berbicara ngalor ngidul dari atas panggung kepada penonton. Namun kali ini, tepat sebelum Roxx memainkan hit terbesar mereka, "Rock Bergema," pesan yang keluar dari mulutnya sangat berbeda. 

"Di tahun "91, Monot (bassist Tonny – Red) keluar dari Roxx karena urusan sekolah ke Jerman, di tahun "97 atau "98 Trison keluar dari Roxx karena dia memperkuat Edane. Di tahun "99 Arry (drummer) keluar, keluar dari dunia, dia meninggal dunia. Abis itu tahun 1996 Iwan (gitaris) keluar dari Roxx karena urusan kepalanya, urusan negara dan sebagainya. 

Awal 2000 DD Crow masuk menggantikan Iwan tapi di awal tahun itu juga DD keluar untuk memperkuat Powerslave. Dan pengganti Monot waktu itu adalah Didi Orange. Setelah itu Roxx vakum karena vokalis nggak ada, gitaris nggak ada, drummer nggak ada, sampai akhirnya kami ngumpul lagi. Crow selepas dari Powerslave masuk lagi ke Roxx di awal 2004 atau 2005. 

Kemudian di awal 2009 Raiden (drummer) bergabung dengan kita. Jadi Arry meninggal di tahun "99 itu butuh sepuluh tahun untuk mendapatkan seorang Raiden. Abis itu kami bikin album perak, Jauh dari Tuhan, tahun 2012. Itu Iwan masuk lagi ke sini, ada DD Crow, Tonny, Raiden dan sekarang tahun 2016 giliran gua mengundurkan diri dari Roxx. Jadi ini panggung terakhir gue di Roxx. 

OK, semoga Roxx tetap Jaya, eh, tetap Trison, tetap Tonny, DD Crow, Raiden dan ini adalah panggung terakhir gue bersama Roxx," koar Jaya panjang lebar di atas panggung seperti dikutip dari video amatir yang direkam penonton dan kemudian ramai beredar di media sosial.

Usai manggung, masih di malam yang sama, Jaya juga menuliskan pesan pengunduran dirinya via akun Twitter pribadi. 

"Teman2 panggung @JakCloth 2 jan 2016 adalah gig terakhir gw di @Roxx_Official. Gw pamit mundur dr Roxx. Thx," tulisnya di sana. Tak ayal media sosial pun geger, bahkan beberapa media massa nasional pun memberitakan mundurnya Jaya pada keesokan harinya. 

Mundurnya Jaya dari Roxx terbilang misterius karena tidak diiringi alasan apapun, bahkan malam itu juga vokalis Trison sempat mempertanyakan keseriusan Jaya untuk mundur langsung dari atas panggung. Dengan nada sedikit protes ia berkata, "Kok elo nggak ngomong dulu sebelumnya?" 

Jaya pun menjawab singkat saja pertanyaan Trison, "Sudah ngobrol ke manajer."
Setelah selama beberapa hari menunggu konfirmasi, akhirnya Jaya untuk pertama kalinya setelah mundur dari band angkat bicara kepada Rolling Stone

"Gue cabut karena akhir-akhir ini sudah nggak nyaman dengan diskusi di grup. Diskusi selalu jadi debat kusir adu "pel*r" (ego)," tulisnya via WhatsApp. 

"Udah nggak diskusi untuk kepentingan bersama seperti biasanya. Lebih ke ego, no akal sehat. Cuma Iwan (gitaris) yang boleh diskusi nggak pake akal sehat, yang lain wajib pake akal untuk kepentingan bersama," imbuhnya lagi. 

"Gue juga nggak bisa terima kalo perjanjian kita dan keputusan jaman masih muda diciderai saat udah tua," ujar Jaya lagi. Sayangnya, ketika ditanya kembali oleh Rolling Stone apa yang dimaksud dengan "perjanjian kita dan keputusan jaman masih muda" itu Jaya enggan untuk menjawabnya. 

"Ini cidera berat, segitu aja kabarnya. Kalo wawancara panjang lebar nanti kaing-kaing yang bikin cidera. Gue udah nggak di Roxx lagi, jadi biarlah yang masih di sana nentuin ke depan grup ini," pungkas Jaya lagi. 

Selepas wafatnya drummer Arry Yanuar pada 1999, boleh dibilang peran Jaya cukup sentral dan penting bagi perkembangan Roxx selanjutnya. Kediaman Jaya di Petamburan, Jakarta sudah lama menjadi base camp sekaligus studio latihan bagi Roxx. Apalagi selain sebagai gitaris dan salah seorang pencipta lagu di Roxx, Jaya juga sejak lama dikenal sebagai penata suara (sound engineer) yang mumpuni, baik di studio rekaman maupun di berbagai panggung pertunjukan. Setidaknya band-band seperti Clubeighties, Superglad, The Upstairs, J"rocks hingga Kelompok Penerbang Roket pernah menjadi klien tetap Jaya. 

Sosok Jaya yang kerap disapa Abah ini terkenal lugas, lantang namun penuh humor jika berbicara, bahkan kata-kata seputaran genital dan aktivitas seksual sering tersembur dengan deras dari mulutnya di berbagai suasana. Tak heran dengan kepribadian yang eksentrik seperti ini rekan-rekannya di Roxx pernah mendedikasikan sebuah lagu yang bercerita tentang dirinya. Lagu berjudul "Mr. J" tersebut masuk ke dalam album kedua Roxx yang rilis pada 1994, Nol

"Aku punya cerita tentang sobat karibku / orangnya kecil dan gesit juga amat lucu / rambutnya gondrong keriting juga amat kaku / ngomongnya enteng persis kayak tante-tante / Ngecengin teman baru kenal pun tak peduli / buka kartu orang sampe pucat nggak karuan…" demikian potongan lirik "Mr. J" yang ditulis oleh vokalis Trison. 

Trison menyesalkan pilihan Jaya untuk keluar dari band. "Kurang sreg sih, kaya anak ngambek," ujarnya lagi. 

Meskipun begitu Trison mengaku ingin Roxx untuk jalan terus. Menurutnya, manajemen akan segera melakukan pertemuan untuk membicarakan hal ini. Kalaupun nanti akhirnya Jaya tetap menyatakan keluar, Trison ingin Roxx berjalan dengan gitaris lain sebagai penggantinya. 

Sejak pertama kali terbentuk 29 tahun lalu, baru kali ini Jaya meninggalkan band yang hingga kini dianggap sebagai salah satu pelopor pergerakan musik metal di Indonesia tersebut. Sebagai band pionir speed/thrash metal asal Jakarta sampai sekarang warisan dan pengaruh Roxx masih dapat ditemukan pada band-band pengusung musik cadas generasi sekarang. 

"Rock Bergema" yang merupakan hit terbesar Roxx terpilih sebagai salah satu dari 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa sementara album debut mereka, Roxx, juga masuk sebagai salah satu dari 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. Kedua daftar tersebut dirilis oleh majalah Rolling Stone Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...