Laman

Kamis, 29 September 2016

RED SPIDER "Besar di Panggung"




“Apa dan siapa band RED SPIDER itu?” ..Itulah yang muncul di benak anak muda jaman sekarang. Bagi mereka ini adalah sebuah nama yang asing bagi mereka …sangat di sayangkan memang tapi inilah fakta dan realita yang terjadi di negeri ini. Minimnya publikasi tentang mereka dan juga carut marutnya dokumentasi musik rock di negeri ini menjadi salah satu penyebabnya… Jadi wajar bagi generasi sekarang banyak yang tidak tahu apa dan siapa itu RED SPIDER.

Red Spider adalah sebuah grup rock yang lahir dipertengahan tahun 1987 di kota Surabaya dengan personel awal Erwin Spider (Vokalis), Made (Guitar), Bobby Romeo (Drummer), Munir Romeo (Guitar), dan Imron ( Bass).

Mereka kemudian melakukan konser di berbagai tempat dikota Surabaya dan sekitarnya. Khususnya di Taman Hiburan Rakyat atau THR atau biasa di sebut juga dengan TRS (TAMAN REMAJA SURABAYA). Tempat yang sangat berkesan bagi para Rocker di Surabaya karena ditempat inilah banyak grup rock ternama bermunculan dari kota Surabaya sebut saja, Red Spider, Power Metal, Andromaedha, Brigade Metal, Big Panser, Lost Angels, Kamikazee, Pumar, Saltis, Ertebe, DC 9, dan Bulldozer.

Fenomena ini dapat kita rasakan tidak hanya di Surabaya saja melainkan sudah menjalar ke penjuru negeri contohnya kota Bandung. Di Bandung ada Sahara, Rudal, Jamz Rock, Ucamp dll. Begitu pula di Jakarta, ada Roxx, Rotor, Slank, Z Liar, Whizkid, Edane, Getah dan masih banyak lagi. Sebab di Era itulah musik Rock sedang jaya jayanya. Semua anak muda dinegeri ini dari sabang sampai merauke semua menggandrungi musik rock. 

Sementara itu bagi Erwin dkk terus melakukan tur dari kota ke kota, dari satu panggung ke panggung tentu saja itu belum cukup buat mereka tanpa adanya sebuah album yang mampu menjadi kado manis buat para penggemarnya dan album adalah tolak ukur bagi sebuah grup Band. Dan dunia rekaman adalah cita-cita mereka dari awal tanpa terasa setelah sekian lama malang melintang dari panggung kepanggung. Akhirnya datang juga apa yg mereka tunggu tunggu dan mereka harapkan, tapi semua itu tidak segampang membalikan tangan dimana saat memulai rekaman mereka pun diterpa badai, gitaris dan drummer mereka pergi ibarat pepatah mengatakan semakin tinggi pohon itu makin kencang pula angin menerpahnya dan itu juga di alami oleh RED SPIDER. Bobby Romeo (drum) hengkang dan di susul pula oleh hengkangnya Munir Romeo (gitar) tapi itu tidak meyurutkan niat mereka untuk meyelesaikan album perdananya. Mereka kemudian menggandeng Andi Muathi dan Dicky Thras sebagai penganti Munir dan Bobby yang hengkang. Gonta ganti personil itu adalah hal yang lumrah dalam sebuah band dan hal itu juga terjadi dengan band- band kelas dunia sekalipun. Setelah melalui kerja keras dan proses panjang akhirnya mereka pun menyelesaikan album perdananya. Dimana sebuah produser musik dari label Ski Records dan Harpa Records memberikan jawaban terhadap kerja keras mereka. Selang beberapa waktu kemudian munculah apa yg dinanti-nanti. Album perdana Red Spider adalah album pertama itu diberi judul Harapan Yang Hilang. Dan di album pertamanya ini, formasi Red Spider berubah dengan formasi baru: Erwin Spider (Vocal), Andi Muathi (Guitar), Dicky Thras (Drum), Hariawan (Gitar), Nikky Sugesthi (Bass).

Setelah melempar album pertama ke pasaran mereka pun belum puas. Mereka terus melakukan tur dan membuat single-single album yang sangat populer di kala itu. Dan ada pula kisah menarik dan sangat konyol tentang Red Spider yang mungkin banyak orang tidak tahu. Saat itu Red Spider mengadakan konser di kota Lamongan.. sekitar 40km sebelah barat Surabaya. Saat mereka berdiri di atas pangung dan mulai menghibur rakyat metal yg ada di kota tersebut. Semua bersorak sambil meneriakan anak liar, anak liar.. tiba tiba begitu memasuki lagu berikutnya saat Red Spider menyayikan lagu “Master of Puppets” milik Metallica semua rakyat metal yang ada di situ bersorak dan mulai jingkrak jingkrak.. tanpa di sadari di pertengahan lagu tersebut sang vokalis Erwin Spider menjerit jerit bukan meneriakkan yel yel khas musik cadas tapi menjerit kesakitan sambil memegangi kepalanya yang bocor terkena lemparan batu dari penonton yang tidak bertangung jawab. Sontak konser pun di hentikan oleh pihak panitia. Dan itu membuat para rakyat metal mejadi kesal terhadap oknum yg melempar tadi, tapi apa boleh buat semua sudah terjadi dan panitia pun dengan tegas mengatakan konser harus di hentikan demi keselamatan bersama dengan meringis kesakitan sambil kepala bocor Erwin dkk pun balik ke kota surabaya malam itu juga.

Seiring berjalan waktu di mana masa masa sulit selalu terjadi dan menghampiri grup rock seperti mereka dimana konser sudah semakin jarang dan karena berbagai alasan yang ada mulai dari ijin konser dari pihak yang berwajib ditambah masih minimnya even organaiser di negeri ini saat itu.. serta ada citra buruk dari berbagai kalangan masyarakat tentang musik rock sebagai biang kerusuhan dan kumpulan para pemabuk serta anak muda berandalan dan apalah masih banyak lagi nada miring yang di sematkan untuk mereka. Praktis buat Red Spider di masa sulit itu mereka hanya melakukan konser di bar dan pub kecil di kota surabaya dan sekitarnya bahkan main di sebuah diskotik .. dan saat itu ada kabar yg beredar para personil Red Spider mulai mengalami titik kejenuhan. 

Sementara itu Munir dan Bobby sibuk mempersiakan band proyek baru mereka yang di prakarsai oleh Dedy Dores seorang musisi yang sudah malang melintang di dunia musik Indonesia dan kerja sama dengan Dedy Dores itu memunculkan sebuah band dengan nama Sansekerta yang memiliki formasi: Munir (Gitar), Bobby (Drum), Heru (Vocal), Dendy Indiana (Kibord) dan Wino D'Alamo (Bass).

Dimana buat mengisi waktu luang Erwin tetap melakukan konser dari panggung satu ke panggung lain bersama Red Spider, tapi dalam diri mereka Red Spider tetap jadi menu utama, itu terbukti selasai menyelasaikan proyek album Sansekerta bersama Dedy Dores mereka kembali bersatu dan memgadakan konser di bawah bendera Red Spider karena bagi mereka Red Spider adalah “Urat Nadi” dan itu sudah di buktikan kepada suluruh rakyat metal di indonesia. Meski pernah mengalami masa timbul tenggelam dan sempat vakum beberapa lama kini mereka kembali lagi dengan jiwa baru dan semangat baru dan yg pasti tetep metal.

Setelah sekitar 18 tahun vakum, Red Spider mencoba bangkit kembali. Grup rock asal Surabaya ini hadir lewat album gres mereka, Thumb Master, dirilis pada Juni 2013 melalui label Positif Art Music. Ada 11 lagu mengisi album tersebut. Sebagai unggulan, grup ini menawarkan lagu berjudul Koruptor.

“Jujur ini bukan latah, karena sekarang marak kasus korupsi lalu kami bikin lagu ini. Sebaliknya, lagu tersebut sebagai ungkapan kedongkolan kami, karena korupsi masih banyak terjadi di negeri ini,” tegas Erwin saat ditemui di Makan Time Resto, Senin 1 Juli 2013.

Kemarahan Red Spider itu pun lalu diungkapkan lewat lirik demi lirik Koruptor yang lagunya sarat distorsi. “Jika yang lain demo dengan turun jalan, demo kami lewat lagu, dan tanpa bakar-bakara,” cetus Oik menambahkan.

Menurut Oik, lagu Koruptor juga sebagai hadiah buat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar lembaga ini terus giat memberantas kasus yang merugikan masyarakat Indonesia tersebut. “Kami semangati KPK lewat lagu ini. Jangan putus asa, terus berkarya dengan hasil tangkapan para pelaku korupsi!” tandas Erwin.

"Kami juga harus tahu selera pasar. maka kami juga menyuguhkan lagu yang bertema cinta yang slow juga kayak lagu Song For You," imbuh Bobby.

Pada November 2014 Red Spider merilis album ketiga mereka, Black Cavalry, secera independen. Ini adalah album pertama mereka yang seluruhnya berisi lirik bahasa Inggris. Formasi terkini adalah vokalis Erwin, drumer Dicky Thras, gitaris Andy Muathi dan bassis Nikky Sugesthi.

2 komentar:

  1. Artikelnya apik bos, he he he he
    Jadi ingat GOR PULOSARI MALANG,
    saat itu era 1990 an RED SPIDER duel meet satu panggung sama DYE MARKER Band trash metal dari Malang
    Luar biasa bisingnya, semua penonton di gor pulosari malang di bikin head banger he he he he...mantap

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...