Laman

Selasa, 28 Maret 2017

IWAN MADJID




Musisi kelahiran 27 Maret 1957 dengan nama lengkap Iwan Sutri Tjondro Abdul Madjid di Jakarta ini dinilai memberi kontribusi dalam konstelasi musik di Indonesia. Selama 4 tahun mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta antara tahun 1977-1981 dengan mengambil mata kuliah Seni Vokal sebagai majoring-nya dan piano serta flute sebagai minoring-nya. Iwan Madjid yang mengagumi vokalis Jon Anderson dari grup Yes ini adalah penggemar musik klasik dan rock. Untuk musik klasik ia banyak meresapi karya-karya monumental dari Johann Sebastian Bach, Debussy hingga Wolfgang Amadeus Mozart. Sedang untuk musik rock, telinga Iwan selalu menyimak repertoar rock progresif milik Yes, Genesis, Emerson Lake & Palmer, Gentle Giant, maupun Refugee.

Musik-musik yang didengarnya itulah yang kemudian diserap dalam proses kreativitasnya dalam bermusik. Bersama dengan rekan-rekan sealmamater di Institut Kesenian Jakarta, Iwan Madjid lalu berinisiatif membentuk kelompok bernama Abbhama. Musik yang dipilih pun tak jauh dari repertoar musik rock progresif yang mereka gemari.


Abbhama yang terbentuk pada akhir tahun 1977 dengan formasi Iwan Madjid (vokal, piano, flute), Darwin B Rachman (bass, keyboard), Robin Simangunsong (drum), Hendro (oboe), Dharma (flute), Oni (keyboard), dan Cok B (gitar). Mereka bertujuh merekam 10 komposisi yang ditulis Iwan Madjid, Darwin B Rachman, Cok B, dan Dharma, serta Tubagus Benny, pada beberapa lirik lagu dalam album bertajuk Alam Raya (Tala & Co, 1978).

Sayangnya, Abbhama hanya sempat merilis satu album saja. Tetapi, Iwan Madjid yang saat itu juga mulai menggarap pembuatan jingle iklan dan music score, bersama Darwin B Rachman masih terobsesi untuk membentuk sebuah kelompok musik yang solid dan permanen.

Niat mereka baru terwujud pada tahun 1983 setelah bersua dengan multi-instrumentalis, Fariz RM. Iwan menganggap Fariz adalah sosok yang tepat untuk mengakomodasikan warna musik mereka. ”Kami satu selera dalam bermusik” ujar Iwan Madjid suatu ketika. Tak lama berselang, mereka bertiga Iwan (vocal, piano, keyboard), Darwin (bas), dan Fariz (drum) mendeklarasikan terbentuk Wow yang merilis album bertajuk Produk Hijau. Popularitas Fariz RM rasanya banyak pula membantu. Terutama ketika Wow harus berhadapan dengan khalayak. Wow tetap menghadirkan nuansa rock progresif lewat lagu-lagu seperti Pekik Merdeka, Armageddon hingga Purie Dhewayani.


Setelah debut album dirilis, Fariz RM mengundurkan diri dari formasi Wow. Ada yang menyebutkan, Fariz mundur, karena terbebani dengan banyak band yang didukungnya. Saat itu, selain bergabung dengan Wow, Fariz juga aktif di kelompok Symphony hingga Jakarta Rhythm Section, serta beberapa proyek album solonya.

Iwan Madjid lalu merekrut Musya Joenoes, pemusik alumnus Trisakti yang terampil bermain gitar dan keyboard, serta Ical Indra, drummer yang memiliki bakat luar biasa. Formasi ini lalu merilis album Produk Jingga dengan sederet lagu seperti ‘Cinta Tiga’, ‘Puber’ maupun ‘Resah’. Iwan Madjid tetap konsisten dengan warna musiknya. Tapi, tak sedikit yang menilai album ini terasa lebih berat dibanding album Wow sebelumnya.

Di tahun 1988, Iwan Madjid menggarap album solo bertajuk Pesta Reuni yang didukung Fariz RM (drum, keyboard), Uce Haryono (drum), Darwin B Rachman (bass, keyboard), dan Eet Syahrani (gitar). Lirik-lirik lagu di album ini terasa ringan. Cenderung ngepop. Iwan Madjid malah menyanyikan kembali lagu Asmara, yang pernah dibawakan pada album Abbhama.

Ketika menggarap album solo, Iwan Madjid ini, Fariz RM, ternyata tertarik untuk bergabung lagi bersama Wow yang ditandai dengan merilis album Rasio dan Misteri. Salah satu lagu di album ini yakni ‘Lapangan Merah’ sempat menjadi hit di radio-radio Jakarta, seperti di Prambors Rasisonia. Saat itu, Wow diberi kepercayaan untuk menggarap soundtrack film remaja Lupus IV yang dibintangi Ryan Hidayat.


Sejak merilis album soundtrack Lupus IV, Wow kembali vakum panjang. Namun, Iwan Madjid telah siap dengan sebuah band baru dengan nama Cynomadeus yang terdiri dari Iwan Madjid (keyboard), Todung Panjaitan (bas), Eet Syahrani (gitar), Fajar Satriatama (drum), dan Arry Safriadi (vokal). Kelompok yang juga berkonsep menautkan elemen musik klasik dan rock ini pun usianya tak panjang. Cynomadeus hanya merilis sebuah album saja. Fajar dan Eet lalu membentuk grup bernuansa metal bernama E dan E. Iwan Madjid masih terus berkutat di dunia musik, antara lain mendukung proyek solo mantan vokalis Cynomadeus, Ary Safriadi bertajuk Mercurius (1992).

Iwan Madjid sendiri juga melebarkan kegiatannya dengan membuat music score film-film layar lebar seperti Lupus IV (1990), Olga dan Sepatu Roda (1991) dan Ojek (1991) termasuk membuat musik tema serial sinetron Rumah Masa Depan di TVRI.

2014 Iwan Madjid memang telah berupaya kembali ke musik, ini terlihat ketika ikut mendukung album solo Baruna, penyanyi rock yang pernah menjadi vokalis El Pamas dan Jagat. Iwan pun sangat bangga ketika album Abbhama yang masuk dalam daftar
150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia itu dirilis secara internasional, termasuk betapa bersemangatnya Iwan untuk kembali menyentuh piano tua yang teronggok di sudut kamarnya sembari menulis lagu-lagu baru serta persiapan untuk reuni Wow! bersama Fariz RM. Namun sayang rencana-rencana itu tak jadi terwujud, karena Sang Khalik telah memanggilnya lebih dahulu pada 17 Juli 2014.

Selamat Jalan, Iwan Madjid.

1 komentar:

  1. Pemaparan yg cukup lengkap tentang karir musiknya Mas Iwan Madjid (alm). Mungkin perlu ditambahkan bahwa sewaktu dia masih kuliah di IKJ sempat membuat Opperete Tjikini yang mementaskan drama "Mahabharata".

    Terima Mas atas artikel tentang seorang yang banyak memberikan pelajaran kehidupan kepada saya

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...